Lalumereka bertiga keluar ke Hims dan mereka meninggalkan Ubaidah bin As-Somit di sana, Abu Dardaâ pergi ke Damsyik. Abu Ubaidah bin Jarrah, Amir bin Jarrah, dan yang lainnya. Di antara beberapa sikapnya yang nyata adalah pada hari pembebasan kota Mekah. Waktu itu Nabi keluar dari Madinah bersarna bala tentaranya dengan kehebatan dan
Diantara beberapa sikapnya yang nyata adalah pada hari pembebasan kota Mekah. Waktu itu Nabi keluar dari Madinah bersama bala tentaranya dengan kehebatan dan jumlah yang belum pernah disaksikan oleh bangsa Arab, sehingga orang-orang musyrik Quraisy merasa takut, dan mereka keluar dari rumah dengan maksud menemui Rasulullah untuk bertobat dan
Dikepungoleh gabungan dua pasukan yang dipimpin Abu Ubaidah bin al-Jarrah dan Amr bin al-âAsh. Pengepungan berlangsung selama 6 bulan, dimulai bulan Syawal tahun 15 H. setelah enam bulan, Patriark Sophronius yang mengepalai keuskupan di Jerussalem memilih untuk menyerahkan kota al-Quds, namun dengan syarat Khalifah Umar sendiri yang datang
Keterangankedua ini dikuatkan oleh keterangan Abu Rafi', pembantu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, "Pada waktu itu, ketika aku masih kanak-kanak, aku rnenjadi pembantu di rumah Abbas bin Abdul Muththalib. Ternyata, pada waktu itu, Islam sudah masuk ke dalam rumah tangganya. baik Abbas maupun Ummul Fadhal, keduanya sudah masuk Islam.
.
Penaklukan Syam berlangsung sekitar 6-7 tahun, dimulai tahun 12 Hâmedium era khilafah Abu Bakar pasca operasi penumpasan kaum murtad dan kelompok anti zakat, hingga tahun 19 H pada masa Khalifah berlangsung pada masa yang beriringan dengan penaklukan di tanah Irak, namun genderang perang dengan pasukan Romawi sebetulnya telah ditabuh semenjak masa Baginda Rasulullah. Pada tahun 8 H, terjadi perang Muâtah, perang mahadahsyat yang semakin melambungkan nama Khalid bin al-Walid dalam jajaran jenderal perang kelas wahid sepanjang sejarah Islam. Kemudian Perang Tabuk di tahun 9 H, juga dalam rangka mengkonfrontasi pasukan Romawi yang telah bergerak untuk menghabisi kekuatan Islam, dimana akhirnya mereka lebih memilih melarikan oleh 5 orang panglima pilihan, dengan komando utama di tangan Khalid bin al-Walid lalu Abu Ubaidah bin al-Jarrah, rentetan penaklukan di tanah Syam berhasil membebaskan kawasan bersejarah tersebut dari hegemoni Kekaisaran Romawi Timur atau Bizantium yang telah berkuasa di kawasan tersebut menjelang diutusnya Nabi Isa sekitar tahun 64 SM.***Penaklukan di Syam berhasil membebaskan lebih dari 20 kota maupun desa dari belenggu Kekaisaran Romawi. Dilihat dari model penaklukan yang terjadi, maka kota-kota tersebut dibebaskan dengan 3 macam caraPertama, ditaklukkan dengan cara damai, tanpa upaya militer sama sekali. Tanpa aral dan rintangan, pasukan Islam bersepakat dengan penduduk setempat untuk memberikan perlindungan dan jaminan keamanan, serta jaminan bahwa penduduk kota-kota tersebut tidak akan dijadikan budak. Model pembebasan semacam ini terjadi atas kotaâ Baalbek sekarang Lebanon. Berperan vital dalam pertahanan Romawi di kawasan Syam. Kaisar Heraclius membangun benteng di kota ini dan menyiapkan pasukan untuk diperbantukan ke kota-kota lain yang membutuhkan di seantero Syam. Dua kali pasukan Islam hendak menuju Baalbek tahun 13 dan 14 H, namun terhalang karena perang demi perang terjadi begitu cepat dan mengalihkan fokus pasukan. Baru pada tahun 15 H seusai perang Yarmuk, Khalid bin al-Walid berhasil menaklukkan Baalbek tanpa pertumpahan darah sama sekali. Sebelum kedatangan pasukan Khalid, Baalbek telah kosong ditinggal pasukannya, yang dikirim oleh Heraclius menuju kota kuno Baisan di Palestina untuk membantu pasukan Romawi menghadapi pasukan Islam.â Hama Suriah. Usai menaklukkan Homs pada tahun 17 H, Abu Ubaidah ď´ bertolak menuju Rastan dan menaklukkan desa tersebut. Sebelumnya, tugas kepemimpinan di Homs telah dipasrahkan kepada shahabat Ubadah bin ash-Shamit ď´. Abu Ubaidah ď´ sampai ke Hama dan membebaskan kota tersebut setelah penduduknya setuju dengan kesepakatan membayar pajak dan kharaj.â Halb Aleppo, Suriah. Ditaklukkan dengan damai oleh Abu Ubaidah bin alJarrah pada tahun 17 H.â Syaizar kini bagian Provinsi Hama, Suriah. Sasaran berikutnya adalah Syaizar. Desa ini ditaklukkan dengan cara yang sama dengan kota Hama.â Maâarrah sebelah selatan Provinsi Idlib, Suriah, danâ Manbij timur daya Aleppo, Suriah. Keduanya dibebaskan tahun 16 H oleh Abu Ubaidah bin juga Periode Khilafah Umar Mengguncang Tahta Romawi di SyamKedua, ditaklukkan dengan cara damai, namun setelah melewati masa pengepungan yang panjang. Bahkan sebagian juga diwarnai dengan kontak senjata antara pasukan Islam melawan pasukan Romawi. Model pembebasan semacam ini terjadi atas kota-kota besar dengan pengamanan super ketat, sepertiâ Damaskus. Dikepung sejak 17 Jumadal Akhirah hingga 20 Rajab tahun 13 H. Kelima panglima batalion yang ditunjuk sejak masa khilafah Abu Bakar bersama-sama melakukan pengepungan atas kota ini. Di tengah malam, saat pasukan Romawi di Damaskus sedang kelelahan akibat acara perayaan, Khalid bin al-Walid ď´ bersama pasukan terbaiknya berhasil menyelinap masuk melalui gerbang timur. Sadar pasukan Khalid telah menyerang dan tak mungkin dihentikan, Tomas, jenderal Romawi bergegas menemui Abu Ubaidah yang berada di gerbang al-Jabiyah di bagian barat Damaskus dan membuat kesepakatan damai.â Homs Suriah. Kini menjadi kota terbesar ketiga di Suriah, setelah Damaskus dan Aleppo Halb. Ditaklukkan pada tahun 16 H oleh pasukan Khalid bin al-Walid ď´ dengan jaminan keamanan senilai dinar.â Raqqah utara Suriah. Setelah meninggalnya Abu Ubaidah bin alJarrah ď´ akibat wabah thaâun pes yang bermula dari kota Imwas di dekat Jerussalem pada awal tahun 18 H, maka kepemimpinan di daerah utara Syam diserahkan kepada Iyadh binGhanam al-Fihri, yang bertanggung jawab atas kota Aleppo, Qinnisrin, dan Jazirah Furatiyah. Sekitar Syaban tahun 18 H, Iyadh mengepung kota Raqqah hingga berhasil merebutnya dengan jalan damai. Gerakan Iyadh berhasil menjangkau kota-kota lain seperti Sanliurfa, Harran, dan Sumaisath Samosata. Ketiganya terletak di Anatolia Asia Kecil dan kini bagian dari Turki.â Baitul Maqdis Jerussalem, Palestina. Dikepung oleh gabungan dua pasukan yang dipimpin Abu Ubaidah bin al-Jarrah dan Amr bin al-Ash. Pengepungan berlangsung selama 6 bulan, dimulai bulan Syawal tahun 15 H. setelah enam bulan, Patriark Sophronius yang mengepalai keuskupan di Jerussalem memilih untuk menyerahkan kota al-Quds, namun dengan syarat Khalifah Umar sendiri yang datang untuk acara Ketiga, ditaklukkan dengan cara perang dan operasi militer. Model pembebasan semacam ini terjadi atas kota-kota sepertiâ Gaza Palestina. Ditaklukkan pada tahun 14 H oleh pasukan Amr bin al-Ash as-Sahmi, seusai perang di Ajanadain.â Qirqisia Circesium, kota kuno di perbatasan Suriah-Irak, dekat kota Dier az-Zor. Ditaklukkan pada bulan Ramadan 17 H oleh pasukan dari Irak yang dikirim oleh Saâad bin Abi Waqqash, komandan utama pasukan Irak.â Raâsul Ain Provinsi Idlib, Suriah. Ditaklukkan oleh Umair bin Saâad alQariâ bin Ubaid al-Anshari yang diutus oleh Iyadh bin Ghanam pada tahun 19 H. Yasir/sidogiriPriode Khilafah Umar Pembebasan Negeri-Negeri Syam0% Priode Khilafah Umar Pembebasan Negeri-Negeri Syam Priode Khilafah Umar Pembebasan Negeri-Negeri SyamPriode Khilafah Umar Pembebasan Negeri-Negeri Syam 0%
â Abu Ubaidah bin Jarrah adalah salah satu sahabat Nabi yang tidak mementingkan status atau kedudukan khusus dalam pemerintahan, tetapi hanya bertindak dengan itikad baik sebagai seorang Muslim. Abu Ubaida bin Jarrah juga merupakan sahabat Nabi yang mempengaruhi peradaban Islam dengan memperluas wilayahnya di luar Arabia. Atas usaha dan keikhlasannya, Abu Ubaida bin Jarrah disebut sebagai Assabiqunaal Awwalun Masuk Surga. Selain itu, Abu Ubaida bin Jarra selalu mengajarkan pentingnya menghayati agama Allah dengan keikhlasan dan tanpa kesombongan atau keegoisan. Semuanya didasarkan untuk mencari keridhaan Allah. Abu Ubaida bin Jarrah diangkat sebagai panglima perang oleh Umar bin Khattab dalam peristiwa Yarmouk pada tahun 636 M. Peristiwa ini menandai kemenangan penaklukan Muslim pertama atas Romawi Timur di luar Jazirah Arab. Bagilah pasukan Anda menjadi 5 divisi depan, belakang, kanan, kiri, dan tengah, dan latih taktik Anda. Dan dengan kekuatan komandonya dia berhasil membunuh komandan Romawi. Sebagaimana diketahui, ketika Nabi Muhammad SAW baru berusia empat puluh tahun, beliau menerima wahyu pertama dari Allah SWT yang diberikan oleh malaikat Jibril di Gua Hira. Kejadian itu segera diketahui oleh istri tercinta Rosul Siti Khadijah pamannya Abu Thalib, dan sahabatnya Abu Bakar al-Siddiq Namun demikian, semua itu masih dirahasiakan setelah ia menyampaikan ayat demi ayat kepada teman-temannya yang lain, tetapi butuh tiga tahun sebelum dilakukan oleh penduduk kota Makkah pada gilirannya. Meski harus menghadapi berbagai bahaya dari perlawanan sengit Pemimpin Tertinggi Quraisy, mereka harus dilakukan secara terbuka. Syiâar Islam Nabi di Mekah berlangsung selama tiga belas tahun, tetapi hanya sepuluh orang yang menyatakan diri mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW. Dalam hal ini, meskipun ia bertekad untuk berjuang tanpa henti dari awal sampai tetes darah terakhir untuk memeluk Islam penduduk Mekkah dan sekitarnya, perintah Hijrah langsung dari Allah SWT Dia melakukannya segera. Peristiwa Hijrah Nabi terjadi pada tahun 622 M. Ini kemudian dinyatakan sebagai Tahun Baru Islam, atau tahun pertama Hijriyah. Dari Kota Mekkah, Rosul mengikutsertakan umat Muslim yang kemudian dikenal dengan sebutan Kaum Muhajirin untuk bersama-sama melakukan perjalanan jauh Âą 500 km melintasi gurun an-Najd menuju Kota Yatsrib yang sudah banyak penduduknya memeluk ajaran Islam Kaum Anshor. Setelah beliau tiba dan bermukim disana, maka berdirilah sebuah pemerintahan baru dalam bentuk Theokrasi Islam karena dalam ajaran-Nya terkandung pemaknaan bahwa masyarakat Islam yang sebenarnya adalah perwujudan dari sebuah bentuk entitas entity adalah hal tatanan religio-politik, sehingga kota Yatsrib berubah namanya menjadi Medina Kota Madinah al Munawaroh, yang berasal dari padanan kata at- Tamadun, Madinatun-Nabi yang berarti Kota Nabi yang Bercahaya. Dengan demikian, maka dua kelompok awal pemeluk Islam yaitu Kaum Muhajirin dan Kaum Anshar, seketika menyatu menjadi kekuatan sumber daya manusia SDM sebagai daya dukung militer yang tangguh guna lebih mengintensifkan syiâar Islam ke berbagai wilayah. Kekuatan tersebut sangat efektif untuk ekspansi wilayah Islam, dan sangat efisien karena tertanam konsep jihad fisabilillah dalam hati mereka masing-masing terutama jika terjadi Sesuatu yang harus sampai mengorbankan jiwanya sendiri tatkala syiâar Islam tengah berlangsung. Hal itu banyak terbukti ketika umat Islam dengan terpaksa harus menghadapi peperangan melawan pasukan Kafir Quraisy, yakni saat menghadapi Perang Waddan, Perang Buwath, Perang Dzul Usyairah, Perang Badar, Perang Badar Al-Kubra, sampai yang terakhir PerangPerang Tabuk, sehingga banyak para Syuhada yang gugur di medan perang demi membela dan menegakkan Islam. Perang demi perang, yang dipimpin panglima pasukan Muslim langsung Nabi Muhammad SAW selalu menang. Selain itu, pada kenyataannya kemenangan yang sering diraih oleh umat Islam tidak hanya diraih melalui perjuangan bersenjata, tetapi juga melalui penggunaan strategi diplomasi. Salah satu produk unggulan diplomasi dari pihak Muslim di bawah kepemimpinan Nabi Muhammad SAW yang masih dianggap sebagai hasil upaya diplomasi terbaik di dunia adalah Perjanjian Hudaibiyah. Persetujuan membawa Islam ke tahap yang sangat menentukan sebagai kekuatan politik nyata yang diakui oleh para sahabt maupun musuh. Selain itu, dampak Perjanjian Hudaibiyah juga menyebabkan banyak penduduk Mekkah yang dahulu berpihak pada musuh, kemudian menjadi Muslim sejati, sehingga panji-panji Islam dengan mudah dikibarkan. Dalam peristiwa ini hampir tidak terjadi pertumpahan darah, sehingga umat Islam di seluruh dunia akhirnya dapat dengan leluasa melaksanakan kegiatan rukun Islam ke-6 yaitu haji, seperti sebelumnya ketika Allah SWT menahbiskan Nabi Ibrahim Namun, segera setelah Baitullah kembali ke tangan kaum muslimin, dan Daulah Islamiyah berdiri kokoh, berpusat di kota Madinah, Nabi Muhammad SAW mulai jatuh sakit hingga akhirnya Wafat, tepatnya pada tanggal 12 Rabiul Awwal tahun 11 Hijriyah atau 632 M pada usia 63. Suatu hal yang menarik, sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, ciri-ciri kenabian akhir zaman Nabi Muhammad SAW muncul, di mana ia tidak pernah secara eksplisit membuat wasiat tentang kepemimpinannya di masa depan. penggantinya, tapi dia selalu berkata kepada temannya Abu Bakar seperti al-Shidiq yang saat itu berusia di atas 70 tahun, wajib menggantikan Imam jamaah di setiap jam sholat, meski saat itu ada beberapa jamaah yang berusaha memberikan saran kepada Nabi, terutama tentang keadaan fisik Abu Bakar as-Shidiq r. satu. dan pernah menangis dalam doa, tetapi Nabi tidak berubah sedikit pun, ia tetap menunjuk Abu Bakar as-Shidiq menggantikannya dalam hal imam dalam semua shalat lima waktu. Sepeninggal Nabi, terutama di beberapa daerah yang cukup jauh dari Mekkah dan Madinah, banyak tokoh dan pemimpin setempat Kabilah dan Emir yang mengaku sebagai nabi pengganti, langsung mengikuti wafatnya Nabi. Sangat jelas bahwa Nabi Muhammad SAW adalah nabi akhir zaman atau Khataman Nabiyin, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qurâan Surat Al- Ahzab ayat 40 yang artinya âMuhammad bukanlah Bapak dari seorang laki- laki kamu, tetapi ia adalah seorang Rasul dan Khaataman Nabiyyin, khatam-nya dari para nabi-nabiâ Dengan munculnya banyak nabi-nabi palsu, para sahabat dan umat Islam taat lainnya yang benar-benar kaffah, segera mengambil langkah konkrit untuk menyelesaikan masalah tersebut dengan mengadakan pembicaraan di organisasi politik ulil amri dengan agenda utama membahas suksesi kepemimpinan pengganti. Nabi Muhammad, dalam arti tak tergantikan dari nubuatannya. Proses negosiasi cukup rumit karena semua orang percaya bahwa karakter pemimpin yang diinginkan rakyat benar-benar mencerminkan sikap dan moralitas Rosul. Beberapa delegasi mengusulkan nama teman termasuk Abu Bhakar as-Shidiq r. a dan Umar bin Khatab r. a, tetapi juga seseorang bernama Utsman bin Affan atau Ali bin Abi Thalib hingga akhirnya terjadi âkontroversiâ yang berujung pada situasi deadlock. Untuk memecah kebuntuan, disarankan agar para utusan mencoba mengingat kata-kata dan kebiasaan Nabi ketika dia sakit sebelum kematiannya, terutama tentang penggantian para imam untuk kata-kata doa umum yang dia percayai dan selalu dia percayai. temannya Abu Bakar as -Shidiq hingga akhirnya, sebagai hasil musyawarah umum, disepakati usul mengenai hal ini, agar Abu Bakar as-Shidiq secara resmi dipilih oleh rakyat sebagai pemimpin pertama pemerintahan Khulafaur Rsyiddin. Kejadian ini dengan jelas menunjukkan bahwa musyawarah untuk mufakat dalam berbagai persoalan, selama masih dalam ruang-ruang ajaran Islam merupakan hal yang paling diprioritaskan. Abu Bakar as-Sidiq memerintah selama 2 tahun 3 bulan, kemudian digantikan oleh Umar bin Khattab Utsman bin Affan dan terakhir Ali bin Abi Thalib Keempat khalifah penguasa tersebut kemudian dikenal sebagai Khalifaur-Rasyiddin, yang berarti pemimpin agama, dimana kekuasaan mereka berlangsung selama 30 tahun setelah wafatnya Rasulullah SAW. Hal itu sesuai dengan sabda Rosululloh sebagai berikut âPemerintahan dalam bentuk Khalafah sesudahku akan berlangsung selama 30 tahun, setelah itu akan menjadi kerajaanâ. diriwayatkan Abu Dawud dan Ahmad dalam musnadnya Begitu pula pendapat Jalil al-Din al- Suyuthi yang mengutip beberapa pendapat para ulama yang menjelaskan hadist tersebut sebagai berikut âTiga puluh tahun setelah Nabi Muhammad SAW wafat adalah khalafah yang empat dan beberapa hari kepemimpinan Hasanâ Rospia, 2012 13 Berkaitan dengan hal tersebut, salah satu peristiwa besar perang, khususnya pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattb adalah peristiwa Perang Yarmuk yang dipimpin oleh Khalid bin Walid yang terjadi pada tahun ke-15 H atau 636 M, antara kaum Muslimin dengan tentara asing Kekaisaran Bizantium atau Byzantium Rum di bawah pimpinan Gregory Theodore Jirritudur. Dalam peristiwa ini, muncul sosok dominan dari faksi Muslim bernama Abu Ubaidah bin Jarrah yang kemudian pada pembahasan kali ini akan kami ulas lebih rinci. Abu Ubaidah bin Jarrah Orang Kepercayaan RosulAbu Ubaidah bin Jarrah Dalam PeperanganTragedi Perang Yarmuk Abu Ubaidah bin Jarrah Orang Kepercayaan Rosul Nama lengkap Abu Ubaidah bin Jarrah adalah Amir bin Abdullah bin Jarrah Al Quraisyi Al Fihri Al Makki, nama ini merupakan bagian dari kelompok As-Sabiqun Al Awwalun awal masuk Islam. Dia menerima Islam oleh Abu Bakar Ash-SAW mendorong mereka untuk mengadopsi Islam sambil menjelaskan Syariah kepada mereka. Pada saat itu, mereka secara bersamaan menerima Islam dengan mengucapkan dua syahadat di depannya. Peristiwa itu terjadi sebelum Nabi SAW memasuki Darul Arqam. Darul Al-arqam adalah tempat Rasul berdakwah Khalid, 2012247. Selanjutnya, ia juga berhijrah ke Habasyah ketika Abu Ubaidah bin Jarrah berjanji setia kepada Rasulullah untuk mengabdikan hidupnya di jalan Allah. Dia sangat siap untuk menyerahkan semua upaya dan pengorbanan yang diperlukan di jalan Allah. Sejak dia mengulurkan tangannya untuk bersumpah setia kepada Rasulullah, dia tidak melihat dirinya sendiri, hari-hari dia hidup dan seluruh hidupnya terpisah sebagai titipan kepadanya oleh Allah dan dia harus diangkat di jalannya untuk memenuhi Kegembiraannya . Tidak ada yang dikejar untuk keuntungan pribadinya, dan tidak ada keinginan atau kebencian yang dapat menyimpangkannya dari jalan Allah Khalid, 2012248. Menghargai keberanian dan keistimewaan yang ditunjukkan oleh Abu Ubaidah bin Jarrah, maka ia menjadi salah satu dari sepuluh sahabat Nabi yang dijanjikan Sabiqunaal Awwalun masuk surga. Mereka adalah Khulafa Rashidin antara lain Abu Bakar Ash-Siddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Ali Thalib. Lalu Thalhah bin Ubadillah, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Saâad bin Abi Waqash, Saâid bin Zaid bin Amru bin Nufail dan Ubu Ubaidah bin Jarrah. Merekalah yang disebut dalam firman Alloh SWT surat At Taubat ayat 100 sebagai berikut Artinya âOrang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama masuk Islam dari golongan muhajirin dan anshar dan orang- orang yang mengikuti mereka dengan baik, Alloh ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Alloh dan Alloh menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai- sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka yang kekaldidalamnya. Itulah kemenagan yang kekalâ Kalid, 2012 247. Ketika Abu Ubaidah bin Jarrah menepati janjinya seperti yang dilakukan para sahabat lainnya, Nabi melihat bahwa hati nurani dan jalan hidupnya layak diberi gelar yang mulia, maka dia memberikannya dan menganugerahkannya kepadanya. Ketika utusan Najran dari Yaman datang untuk mewartakan Islam, mereka meminta Nabi untuk mengirim seorang guru bersama untuk mengajarkan Al-Qurâan, Sunnah dan ajaran Islam. Rasulullah bersabda â Sungguh, aku akan mengirimkan bersama kalian seorang terpercaya, dan bener-benar terper- caya, benar-benar terpecaya, benar-benar terpecayaâ. Dengan kejadian ini tentunya bukan berarti hanya Abu Ubaidah bin Jarrah saja yang mendapat amanah dan kewajiban Nabi, tidak seperti yang lainnya, artinya orang tersebut beruntung memilikinya tugas yang berharga dan tugas yang mulia. Dia adalah orang, atau mungkin satu-satunya, pada masanya. Pada saat itu, suasana kerja dan dakwah yang ada memungkinkannya meninggalkan Madinah untuk menjalankan misi yang sesuai dengan bakat dan kemampuannya. Baca Juga Biografi Saâid bin Zaid 51 H Wafat, Salah Satu Sahabat yang DIjamin Masuk Surga Abu Ubaidah bin Jarrah Dalam Peperangan Setelah julukan yang ia terima dan tanggung jawab yang ia emban, hidupnya hampir diringkas menjadi aktivitas berperang di jalan Allah. Pada setiap peristiwa perang, dia menemani Nabi dalam perang. Ditampilkan olehnya dalam Perang Badar 2 H, Perang Uhud 3 H dan pertempuran lainnya. Pada peristiwa Perang Badar pada 2 H/624 M. Karena kepiawaiannya dalam berperang, Abu Ubaidah bin Jarrah berhasil menyusup ke garis musuh tanpa takut mati atau terhalang oleh musuh. Tapi orang musyrik melihat lokasi Abu Ubaidah bin Jarrah yang akan mencelakai tentara musyrik mendatangi seorang pria yang menghadapinya dan mengejarnya. Ke mana pun dia lari, tentara mengejarnya dengan gana, dan ternyata tidak lain adalah Abdullah bin Jarrah yang mengincarnya, ayah kandungnya sendiri. Abu Ubaidah bin Jarrah tidak membunuh ayahnya, tetapi dia membunuh kemusyrikan yang ada dalam tubuh pribadi ayahnya. Tentang hal itu, Allah berfirman dalam Surat Al-Mujadilah ayat 22 sebagai berikut Arinya âEngkau tidak menemukan kaum yang beriman kepada Alloh dan hari kiamat yang mengasihi orang-orang yang menentang Alloh SWt dan Rosululloh, walaupun orng tersebut ayah kandung, anak, saudara atau keluarga sendiri. Alloh telah mematri keimanan dalam hati mereka dan dia bekali pula dengan semangat. Alloh akan memasukan mereka ke dalam surga yang didalamnya mengalir sungai-sungai, mereka akan kekal didalamnya. Akan menyenangi mereka, dan pihak lain mereka pun senang dengan Alloh. Mereka itulah prajurit Alloh pasti akan sukses â Muhammad, 2012 248. Selain keberaniannya dalam peristiwa Perang Badar, ia juga aktif membantu pada masa pemerintahan Abu Bakar Ash-Shidiq terutama sebagai panglima perang pada peristiwa awal mula perang Yarmuk, dan menggantikan Khalid bin Walid pada tahun 13 H/634 M. Masalah Terkait Dengan diberhentikannya Khalid bin Walid, beliau bersikap ramah dan mau menerima meskipun beliau berada di puncak kejayaan saat itu, namun Abu Ubaidah bin Jarrah merasakan hal yang sama, ketika ia diturunkan dari posisinya, oleh Abu Bakar Ash-Shidiq dan digantikan oleh Khalid bin Walid, namun ia menerima dengan lapang dada. Pemerintahan Abu Bakar Ash-Siddiq selalu dihadapkan dengan perang melawan orang-orang murtad meliputi seluruh Jazirah Arab. Beberapa dari orang-orang murtad ini kembali ke kepercayaan lama mereka dan mengikuti para nabi yang memproklamirkan diri, yang lain hanya menolak untuk membayar zakat. Ketika Abu Bakar Ash-Siddiq selesai memerangi orang-orang murtad dan Musailamah Al Kadzdzab, dia mempersiapkan para pemimpin tentara untuk menaklukkan Syam. Kemudian dia mengutus Abu Ubaidah bin Jarrah, Yazid bin Abu Sufyan, Amr bin Al Ash dan Shurahbil bin Hasnah. Setelah itu, terjadi pertempuran antara dua kekuatan di daerah dekat Ramalah Palestina, pada akhirnya Allah menganugerahi kemenangan bagi orang-orang yang beriman. Berita kemenangan itu kemudian disampaikan kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq tepat ketika itu ia sendang sakit keras. Kemudian datanglah Perang Fihl dan Perang Maraj Ash-Shuffar. Saat itu, Abu Bakar satu. mengirim pasukan yang dipimpin oleh Khalid bin Al Walid untuk menaklukkan Irak. Ia lalu mengirimkan delegasi untuk menemui Khalid bin Al Walid agar siap membantu para prajurit yang bertugas di Syam. Kemudian dia memotong jalan gurun, sementara Abu Bakar Ash-Siddiq saat itu adalah panglima tertinggi semua pasukan. Ketika kaum Muslim mengepung Damaskus, Abu Bakar meninggal, lalu Umar Bin Khattab segera memerintahkan agar Khalid diturunkan sebagai panglima tentara dan diganti dengan Abu Ubaidah bin Jarrah. Setelah menerima informasi tentang pengangkatannya sebagai panglima tentara, ia mencoba merahasiakannya untuk sementara waktu, karena pengetahuan agamanya yang dalam dan sifatnya yang lembut dan sopan. Damaskus berhasil diduduki, saat itulah ia menunjukkan kekuatannya, yaitu menandatangani perjanjian damai dengan Romawi sehingga mereka akhirnya bisa membuka pintu selatan dengan cara damai. Jika Khalid bin Al Walid menaklukkan Roma dengan cara militer dari Timur, Abu Ubaidah bin Jarrah melanjutkan penaklukannya dengan perjanjian damai Husain, 1998 160. Selanjutnya, dalam kasus perang Uhud 3 H, dari pergerakan dan jalannya pertempuran, tujuan utama kaum musyrik bukanlah untuk meraih kemenangan, tetapi untuk membunuh dan merebut jaringan Nabi. Abu Ubaidah bin Jarrah berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan selalu berada di dekatnya di arena pertempuran, dan dengan pedang kepercayaannya dia menyerang tentara pagan yang datang dengan ketidakadilan dan kebenciannya untuk memadamkan cahaya Allah. Setiap situasi pertempuran memaksa Abu Ubaidah bin Jarrah untuk tetap tidak meninggalkan Rasul, dia terus bertarung tanpa mengalihkan pandangan dari posisi Nabi. Dia selalu memperhatikan keselamatannya dengan kegetiran dan gelisah. Jika dia melihat bahaya yang mengancam Nabi, dia seolah-olah terguncang dari tempatnya berdiri dan melompat ke atas musuh-musuh Allah dan mengusir mereka sebelum mereka mencelakainya Muhammad. Saat pertempuran berkecamuk, Abu Ubaidah bin Jarrah dipisahkan dari Nabi karena dikelilingi oleh musuh. Dia hampir kehilangan kepalanya ketika dia melihat panah ditembakkan dari tangan seorang musyrik ke Nabi. Pandangan ke sisi lain seperti ketika pedang mengenai musuh di sekitarnya, lalu dia terbang dan melompat untuk mencapai Rasulullah. Dia melihat darah sucinya mengalir dari wajahnya, dan menyeka darah itu dengan tangan kanannya, dan berkata, âBagaimana mungkin orang-orang yang telah melukai wajah Nabi mereka bergembira, bahkan ketika Dia memanggilnya kepada Tuhannya?â Abu Ubaidah Bin Jarrah melihat dua rantai dan menempelkan helm untuk melindungi Rasulullah. Ia pun tak kuasa menahan gejolak hati yang langsung menggigit salah satu rantai dengan gigi depannya dan mencabutnya dari pipi Rasulullah hingga lepas, bersamaan dengan itu salah satu gigi Abu Ubaidah bin Jarrah copot. lalu ia mencabut yang kedua. rantai dan juga menyebabkan salah satu gigi depannya dicabut. Abu Ubaidah bin Jarrah dibiarkan kehilangan dua gigi depannya untuk menyelamatkan keselamatan Nabi, Abu Ubaidah bin Jarrah mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan Nabi dan berjalan di jalan Tuhan yang dia yakini. Tanggung jawabnya bertambah besar tatkalaia dikirim ke medan perang, dengan syarat tidak lebih dari sekeranjang kurma, meskipun itu tugas berat dan perjalanan panjang, namun Abu Ubaidah bin Jarrah menerima perintah dengan ketaatan dan hati yang gembira. Mereka terus maju tanpa menghiraukan lapar dan dahaga, tidak ada tujuan mereka kecuali menyelesaikan tugas mulia bersama panglima mereka yang kuat dan terpecaya, yakni tugas yang ditimahkan oleh Rasulullah kepada mereka. Ketika Khalid bin Walid memimpin tentara Muslim dalam salah satu pertempuran terbesar, tiba-tiba Amirul Muâminin Umar mengumumkan penunjukan Abu Ubaidah bin Jarrah sebagai pengganti Khalid. Ketika Abu Ubaidah bin Jarrah menerima berita dari utusan Khalifah, dia meminta utusan itu untuk merahasiakan berita itu dari publik. Abu Ubaidah bin Jarrah sendiri merahasiakannya sebagai sebuah niat yang muncul dari pangkuan seorang petapa, bijaksana dan amanah hingga Khalid meraih kemenangan besar. Setelah memperoleh kemenangan, Abu Ubaidah bin Jarrah menemui Khalid dengan akhlak yang agung untuk menyampaikan surat dari Amirul Muâminin. Khalid bertanya kepadanya, âSemoga Allah merahmatimu, Abu Ubaidah bin jarrah! Kenapa kau tidak memberitahuku saat surat ini tiba?â. Abu Ubaidah bin Jarrah pun menjawab, âSaya tidak ingin mematahkan tombak Anda, itu bukan kekuatan yang kami cari dan bukan dunia kami untuk bersedekah!â Kita semua bersaudara karena Allah. Abu Ubaidah bin Jarrah akhirnya menjadi panglima senior panglima perang yang mempertahankan wilayah yang luas, dengan amunisi dan personel yang sangat banyak. Namun, jika seseorang melihatnya, Anda akan berpikir bahwa dia tidak berbeda dengan prajurit biasa dan penampilannya mirip dengan Muslim lainnya. Ketika dia mendengar orang-orang Suriah berbicara tentang dirinya dan kekaguman mereka atas gelar Amirul Umar, dia mengumpulkan mereka dan berdiri untuk memberikan pidato. Dalam pidatonya adalah âHai manusia, saya seorang Muslim dari suku Quraisy. Siapapun diantara kita, baik itu kulit merah atau hitam, lebih taqwa dari saya, hati saya rindu berada di bawah bimbingannya. Semoga Allah menjaga kebahagiaanmu wahai Abu Ubaidah bin Jarrah. Semoga Dia menjaga agama yang telah mendidikmu dan Nabi yang telah mengajarimu. Itu satu-satunya keinginannya, tidak ada yang lain. Adapun posisi Panglima, dia adalah komandan tentara Muslim dengan jumlah pasukan terbesar dan keahlian yang paling menonjol dan prestasi yang paling gemilang. Demikian pula sebagai walikota wilayah Syam, di mana semua keinginannya berlaku dan semua perintahnya dipatuhi, dan hal itu bukan lah suatu kebanggan baginya, karena yang lebih penting baginya adalah selalu berjuang di jalan Allah dan para utusannya. Abu Ubaidah bin Jarrah juga dikenal sangat sederhana, seperti yang diketahui Umar bin Khattab yang pernah berkunjung ke rumahnya. Dan Umar tidak menemukan barang mewah apapun di dalam rumahnya. Tragedi Perang Yarmuk Peristiwa perang ini pecah pada Senin 5 Rajab 15 H pukul 3 sore atau 636 M. Dalam perang tersebut, banyak pejabat tinggi pemerintah terbunuh oleh serangan musuh yang terjadi secara bertubi-tubi. Keunggulan kekuatan Romawi tidak hanya dilihat dari tentara, tetapi kemampuan khusus prajurit tidak perlu dipertanyakan lagi selain disiplin, tentara Romawi juga dilatih dan diperlengkapi persenjataan secara lengkap. Sementara tentara Muslim jauh di belakang tentara Romawi, tetapi dengan bantuan Allah, tentara Muslim mampu memenangkan pertempuran. Ada peristiwa yang sangat luar biasa di balik pertempuran sengit yang terjadi pada waktu itu, komandan Romawi memimpin tentara di depan, yaitu Gregory masuk Islam. Ini terjadi selama dialognya dengan kaum Muslim. Komandan Romawi, Gregory Theodore orang Arab memanggilnya âJirri Tudurâ ingin menghindari banyak korban dalam perang. Di hadapan ratusan ribu tentara Romawi dan Muslim, Gregory memproklamirkan masuk Islam. Kemudian ia belajar Islam sebentar, sempat shalat dua rakaat, lalu berperang bersama Khalid. Gregory mati syahid oleh tentara lamanya, tetapi pasukan Muslim mencetak kemenangan besar di Yarmuk, meskipun beberapa kawan tewas di sana. Di antara mereka adalah Juwariah, putri Abu Sofyan. Selama pertempuran antara keduanya, tombak Gregory patah oleh pedang Khalid bin Walid. Kemudian dia mengambil pedang besar sebagai gantinya. Saat dia bersiap untuk berperang lagi, Gregory bertanya kepada Khalid bin Walid tentang motifnya berperang dan tentang Islam. Peristiwa perang Yarmuk dilihat dari tentara Muslim dan Romawi, tentu saja, dengan mata telanjang dan secara logis dimenangkan oleh Romawi dengan alasan yang tidak diragukan lagi. Namun karena kegigihan para prajurit muslim dan kekuatan Allah yang besar dibandingkan dengan kekuatan lainnya. Banyak orang tidak percaya pada kemenangan yang diraih oleh kaum Muslim. Banyak yang mengatakan bahwa itu mungkin karena Romawi begitu kuat, Tapi itu adalah kekuatan tak terduga Allah untuk membantunya. Awalnya, tentara Romawi lebih banyak daripada tentara Muslim. Jumlah prajurit muslim yang gugur di medan perang hanya orang, sedangkan orang Romawi sekitar sampai orang. Lebih jauh menyusuri jalan setapak selama Perang Yarmuk, Az-Zubair melawan tentara Romawi, tetapi ketika kaum Muslim berpencar, dia berteriak, âAllahu Akbarâ dan kemudian dia menyerbu ke tengah. Musuh mengayunkan pedangnya ke kiri dan ke kanan. Putranya Urwah pernah berkata tentang dia âAz-Zubair menerima tiga pukulan dengan pedangnya, setelah saya memasukkan jari saya ke dalamnya, dua di Perang Badar dan satu di Perang Yarmukâ. Salah satu sahabatnya pernah menceritakan sebuah kisah âSaya bersama Az-Zubair bin Al-Awwam dalam hidupnya dan saya melihat sesuatu di tubuhnya, saya diberitahu kepadanya; Tuhan, aku belum pernah melihat tubuh orang sepertimu. Selanjutnya, dia mengatakan kepada saya; Demi Allah, tidak ada luka di tubuh ini kecuali memerangi Rasul Allah dan jalan Allah. Peristiwa perang Yarmuk berlangsung selama enam hari, merupakan hari yang sangat menyedihkan bagi kaum muslimin sehingga konon dari sumber ini 700 orang tentara muslim kehilangan matanya akibat hujan panah tentara Romawi. Hari itu adalah hari perang terburuk bagi pasukan Muslim. Hari keenam perang terjadi pada minggu keempat Agustus 636 M minggu ketiga Rajab, 15 H. Kondisi fisik dan mental tentara Muslim pagi itu terasa segar, dan mengetahui niat komandan untuk menyerang dan dalam rencananya, mereka tidak sabar untuk pergi berperang. Harapan hari itu membayangi semua kenangan buruk hari sebelumnya. Di depan mereka berbaris tentara Romawi dengan penuh rasa cemas, dan semangat mereka mulai tenggelam karena komandan mereka masuk Islam, mereka memiliki sedikit harapan tetapi masih ingin berjuang dalam diri mereka sendiri. Saat matahari terbit di langit Jabalud Druz yang tenang, Gregory, komandan tentara yang dirantai, maju dengan menunggang kuda ke tengah-tengah tentara Romawi. Dia datang dengan misi untuk membunuh panglima tentara Muslim dengan harapan akan berdampak pada melemahnya moral para pemimpin unit dan jajaran Muslim. Saat dia mendekati tengah-tengah tentara Muslim, dia berteriak menantang duel dan berkata, âTidak lain adalah komandan orang Arab!â Abu Ubaidah bin Jarrah segera siap menghadapinya. Khalid bin Walid dan yang lainnya berusaha mempertahankannya, karena Gregory memiliki reputasi sebagai pesaing yang sangat kuat, dan seperti itulah kelihatannya. Semua orang merasa akan lebih baik jika Khalid bin Walid menghadapi tantangan itu, tetapi Abu Ubaidah bin Jarrah tidak bergeming. Dia memberi tahu Khalid bin Walid âJika saya tidak kembali, Anda harus memimpin pasukan, sampai Khalifah memutuskan masalah ini. Tidak hanya keberanian pada diri Abu Ubaidah bin Jarrah untuk berani berduel dengan para panglima besar Romawi, tetapi seperti yang terjadi pada perang sebelumnya, pergantian panglima para panglima besar Romawi. Perang Islam biasanya terjadi secara instan. Abu Ubaidah bin Jarrah diberi amanah ketika mengacu pada keadaan perang yang telah terjadi dengan Umar bin Khattab Umar bin Khattab akhirnya memberikan surat tersebut kepada kurirnya untuk disampaikan kepada pihak yang bersangkutan, kurir tersebut juga sangat terkejut dengan tindakan Umar bin Khattab tersebut. Pertempuran luar biasa ini dimenangkan oleh tentara Muslim. Kemudian Abu Ubaidah bin Jarrah menulis surat kepada Umar bin Kahttab menyatakan kemenangan Yarmuk atas Romawi, mengirimkan 1/5 dari rampasan, dan menyebutkan bahwa ia telah menunjuk Bashir bin Saâd bib Ubai as-Suffar untuk mengusir sisa-sisa musuh yang dikalahkan dan masih tersebar dan terkonsentrasi di Filh Pella . Dia mengetahui bahwa Heraclius dari Hims, tempat dia tinggal, telah mengirim bala bantuan ke Damaskus. Setelah menerima dan membalas surat Abu Ubaidah bin Jarrah, Umar bin Khattab langsung membalasnya. Setelah kemenangan Muslim dalam perang, pengaruh dan hegemoni kekuasaan Romawi runtuh, membuat daerah lain lebih mudah ditaklukkan. Seperti perang Qadisiyah di Damaskus. Kemudian Palestina dan wilayahnya ditaklukkan satu per satu. Kemudian, meninggalkan perisai Romawi dan lengan bertatahkan permata, yang dia abaikan karena kebiasaannya tidak melihat harta berharga dunia, prajurit yang saleh itu kemudian kembali ke tentara Muslim, Abu Ubaidah bin Jarrah dalam perang Yarmuk, menjadi panglima pengganti Khalid bin Walid dan memenangkan perang dengan membunuh panglima tentara Romawi yang ditugaskan oleh Umar bin Khattab.
MADINAH - Perawakannya tinggi tegap. Jika berperang ia jadi andalan. Namun yang paling menonjol adalah sikapnya yang terpercaya. Itulah sosok sahabat nabi, Abu Ubaidah bin menjadi sosok terpercaya karena dinyatakan langsung oleh Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana dikisahkan Muhammad ibn Ja'far dalam al-Basya, hal itu bermula ketika utusan Nasrani menemui Rasulullah. "Wahai Abu Qasim, utuslah seorang sahabat Anda agar menjadi penengah kami dalam berbagai masalah harta benda yang kami persengketakan. Sesungguhnya kaum Muslimin mendapatkan kepercayaan dari kami," kata utusan itu."Datanglah kembali nanti petang. Aku akan mengutus seorang yang paling jujur dan kuat jiwanya," jawab Rasulullah. Mendengar hal itu, Umar bin Khattab berharap dirinya yang bakal ditunjuk. Bukan karena haus jabatan, Umar ingin betul menyandang titel 'orang yang paling jujur dan kuat jiwanya'. Umar pun datang ke masjid lebih cepat dari pada yang lainya untuk shalat Zhuhur berjamaah yang dimami sholat, nabi melihat ke sekeliling. Umar pun menonjolkan badannya agar bisa dilihat nabi. Umar berharap betul bakal dipilih. Namun, pandangan nabi malah terhenti pada sosok Abu pun memanggil Abu Ubaidah. "Pergilah engkau bersama mereka ini utusan Nasrani, terangilah perselisihan mereka," kata saat itu, tulis Ayesha 201728, Abu Ubaidah dikenal sebagai kepercayaan umat. Hal itu dipertegas Rasulullah dengan sabdanya, "Setiap umat memiliki orang kepercayaan. Dan kepercayaan umat ini adalah Abu Ubaidah bin Jarrah."Terbukti di Medan PerangNama lengkap Abu Ubaidah adalah Amir bin Abdullah bin Jarrah Al-Fihry Al-Quraiys. Ia adalah bagian dari kelompok pertama yang masuk Islam. Ia bersyahadat sehari setelah Abu terpercaya Abu Ubaidah itu tampak dalam sejumlah misi militer yang dijalankan. Pada Perang Badar 623 Masehi, sebagai seorang prajurit, ia terpaksa menghadapi keluarga dan kerabatnya sendiri yang masih itu, sebagaimana ditulis Abdurrahman Rafâat al-Basya dalam Sosok Para Sahabat Nabi 2005, Abu Ubaidah terkenal berani sehingga para penunggang kuda musuh selalu menghindarinya. Hanya satu orang yang berani menghadapinya. Bahkan orang ini mengejarnya, tapi giliran Abu Ubaidah yang Abu Ubaidah terus menghindar, orang itu akhirnya malah jadi sosok terdepan dalam perang itu. Kondisi yang tak menguntungkan bagi pasukan nabi. Abu Ubaidah pun akhirnya terpaksa menghadapinya dan menebas kepalanya hingga putus. Orang yang tewas mengenaskan itu adalah Abdullah ibn-Jarrah, ayahnya operasi Khabath 629 M, Abu Ubaidah kembali menampakkan sikap terpercayanya. Kala itu nabi menunjuknya sebagai pemimpin dengan 300 orang tulis Khalid Muhammad Khalid 2014298, ia hanya diberikan bekal sebakul kurma. Padahal perjalanan yang akan ditempuh amat jauh dan tugasnya juga berat. Walhasil, selama sehari setiap prajurit hanya mendapat jatah segenggam kurma. Saat stok mulai menipis, setiap prajurit hanya kebagian sebuah kurma setiap perbekalan habis, mereka memetik daun tumbuhan Khabath untuk ditumbuk lalu dimakan. Operasi itu akhirnya sukses. Begitulah Abu Ubaidah bertahan demi menunaikan kepercayaan dalam sebuah perang di masa Khalifah Umar bin Khattab, Abu Ubaidah sempat menunda untuk memberitahukan pesan yang amat penting. Tapi penundaan itu didasarkan sebuah Ubaidah ketika itu menerima surat penunjukan sebagai panglima perang menggantikan Khalid bin Walid. Tapi, ia tak memberitahukan kabar itu langsung ke Khalid bin pergantian panglima saat perang masih berlangsung akan merusak fokus pasukan. Ia memberikan surat itu kepada Khalid bin Walid ketika peperangan sudah dimenangi tentara bin Walid pun mempertanyakan penundaan itu. "Aku tidak ingin menghentikan perangmu. Bukanlah kekuasaan dunia yang kita tuju, dan bukan pula untuk dunia kita berbuat. Kita semua adalah saudara yang memperjuangkan agama Allah," jawab Abu itu, Abu Ubaidah menjadi panglima tentara di Negeri Syam. Di sana pula lah ia meninggal karena terinfeksi wabah sampar alias pes yang tengah merajalela. Umar bin Khattab meneteskan air matanya ketika mendapat kabar duka itu."Semoga rahmat Allah terlimpah bagimu wahai saudaraku,â ujar Umar sebagai tanda perpisahan.
abu ubaidah bin jarrah gugur pada waktu pembebasan kota